Aku dan dia adalah dua titik yang pernah berada pada satu garis yang sama. Kami berjalan dengan langkah masing-masing, membawa cerita, luka, dan mimpi yang tidak selalu terucap. Dalam kebersamaan itu, harapan tumbuh pelan-pelan—kadang kuat, kadang rapuh—namun selalu ada, menyelip di antara percakapan sederhana dan diam yang panjang. Aku adalah diriku dengan segala ketidaksempurnaan: ragu yang sering datang, keberanian yang tidak selalu utuh, serta keinginan untuk dimengerti tanpa harus menjelaskan terlalu banyak. Dia adalah sosok lain dengan dunianya sendiri, dengan cara berpikir dan merasakan yang tak selalu sejalan denganku. Perbedaan itulah yang membuat kami saling belajar, tetapi juga kerap membuat jarak terasa nyata. Harapan lahir di antara aku dan dia, bukan sebagai janji yang pasti, melainkan sebagai kemungkinan. Harapan membuatku bertahan ketika keadaan tidak ideal, memberi alasan untuk tetap peduli meski tidak selalu mendapat kepastian. Namun harapan juga bisa menjadi beban,...